Topics

Ekonomi (9) Hiburan (1) Info (5) Joke (1) Kesehatan (4) Knowledge (18) Kriminal (2) Kuliner (1) Pariwisata (36) Pendidikan (1) Politik (2) Property (1) Sejarah (12) Teknologi (17) Tokoh (3)

Wednesday, March 25, 2009

Mengintip Cenderawasih Menari di Sawinggrai

SIAPA tidak mengenal Raja Ampat, kepulauan di wilayah Papua Barat yang terkenal dengan keindahan karang dan keanekaragaman jenis ikan. Karena keindahannya inilah, hampir dapat dipastikan setiap wisatawan yang berkunjung ke Raja Ampat tidak pernah melewatkan kesempatan menikmati keindahan alam bawah lautnya. Tak heran, banyak orang menyebut Raja Ampat sebagai surga bagi pecinta selam.

Nyatanya, Raja Ampat tak hanya menggudangkan keindahan yang hanya bisa dinikmati dari kedalaman laut. Keindahan di atas permukaan laut Raja Ampat wajib dicicipi. Tak Percaya? Jika Anda menyambangi Raja Ampat, sempatkan untuk bertandang ke Kampung Sawinggrai, Distrik Meos Mansar, Raja Ampat, Papua Barat. Di kampung ini Anda mendapat kesempatan menyaksikan kelincahan burung cenderawasih, burung yang menjadi maskot Papua, di habitat aslinya.

Syahdan, pemantauan cenderawasih di Kampung Sawinggrai muncul berkat ketekunan Yesaya Mayor yang gemar memetakan kebiasaan burung ini. Selama lebih dari enam bulan, ia memetakan lokasi burung cenderawasih biasa menari, lokasi mencari makan serta jenis makanannya, dan musim burung ini bertelur. Sungguh, ia begitu uletnya menjadi pemandu pemantauan burung cenderawasih.

Menurut Yesaya, ada empat jenis cenderawasih di Sawinggrai, yaitu cenderawasih merah (Paradisaea rubra), cenderawasih belah rotan (Cicinnurus magnificus), cenderawasih kecil (Paradisaea minor), dan cenderawasih besar (Paradisaea apoda). Dari keempat jenis ini, cenderawasih merah merupakan maskot cenderawasih di kampung ini.

Tarian burung cenderawasih adalah momen yang sangat menarik untuk dilihat. Pasalnya, atraksi menari ini merupakan ritual kawin burung cenderawasih. Para pejantan akan berkumpul untuk bersaing memperlihatkan keelokan bulunya untuk menarik perhatian burung betina agar bisa mengawininya.

Catat waktunya! Atraksi cenderawasih di Sawinggrai jamak dilakukan pada pagi hari mulai pukul 06.30-7.30 WIT dan pada sore hari, pukul 16.30-18.00 WIT.

Untuk menikmati atraksi cenderawasih menari, Anda harus rela berjalan kaki selama kurang lebih 30 menit untuk mendaki Bukit Manjai di Sawinggrai. Sebuah gubuk kayu beratapkan ilalang telah disiapkan oleh Yesaya Mayor di lokasi pemantauan. Dari sini Anda bisa bertelanjang mata untuk melihat burung cenderawasih menari di atas sebuah pohon besar dengan indahnya. Burung ini akan menari lebih enerjik jika terdapat burung cenderawasih betina di sekitarnya.

Hanya saja, jika Anda menyambangi Sawinggrai di waktu yang tidak tepat, Anda harus meminggirkan keinginan melihat atraksi burung cenderawasih menari. Pada bulan Desember hingga pertengahan Februari, burung indah di Sawinggrai ini mengerem keriangannya menari karena bulan-bulan tersebut adalah musim bagi mereka untuk bertelur.

Selain melihat atraksi burung cenderawasih, Kampung Sawinggrai juga bakalan mengguyuri Anda dengan buncah kegembiraan lain lantaran Anda bisa bermain dengan ikan-ikan liar di sekitar dermaga. Caranya? Tentu saja, dengan memberi mereka makanan. Ikan-ikan liar ini tidak segan-segan datang berebut makanan di tangan Anda saat Anda mencelupkan tangan ke dalam air.

Inilah potret Sawinggrai yang memiliki beragam potensi keunikan yang terus dilestarikan. Selain tidak memburu cenderawasih mereka juga menerapkan sistem Sasi Laut di perairan sekitar kampung meski hidup sebagai nelayan. Sasi laut adalah larangan untuk menangkap jenis fauna laut tertentu di sebuah kawasan dalam jangka waktu tertentu yang disepakati oleh masyarakatnya. Karenanya, jangan heran bila Anda bisa jor-joran memanjakan indera lihat Anda dengan berbagai jenis ikan dan karang. Apalagi jika Anda memiliki hobi snorkling, rasanya sayang sekali untuk melewatkan pesona Sawinggrai.

Nah, Anda berniat untuk menyambangi Kampung Sawinggrai? Anda bisa menggunakan kapal dari Sorong menuju ibu kota Kabupaten Raja Ampat, yaitu Waisai. Ada dua pilihan, pertama menggunakan kapal cepat dengan waktu tempuh sekitar 2 jam, atau menggunakan kapal perintis milik pemerintah daerah dengan waktu tempuh sekitar 4 jam. Setelah itu perjalanan dengan menggunakan longboat menuju Sawinggrai ditempuh dalam waktu sekitar 2,5 jam.

Tunggu apa lagi??

Menelusuri Eksotika Sauwandarek

EKSOTIS, mungkin itu kata yang tepat menggambarkan pesona Kampung Wisata Sauwandarek. Terletak di Distrik Meos Mansar, Raja Ampat, Papua Barat, kampung ini tak hanya menawarkan pesona bawah laut. Namun, kemolekannya semakin lengkap dengan keindahan alam di atas lautnya.

Tiba di pantai Sauwandarek, aktivitas snorkeling rasanya sayang untuk di lewatkan. Jika tak puas bersnorkeling, Sauwandrek yang berada di kawasan Selat Dampier memiliki beberapa lokasi menyelam (dive site). Berbagai jenis ikan seperti kuda laut mini (pigmy seahorse), udang mantis, blue ring octopus, ikan mandarin, kakap (schooling snapper), dan ekor kuning bisa kita jumpai. Kadang penyelam juga bisa menikmati berada dekat dengan gerombolan ikan tuna dan barakuda.

Puas dengan keindahan bawah laut, anda bisa melanjutkan perjalanan di kampung wisata. Masyarakat Sauwandarek tahu betul menjaga keunikan kampung mereka. Di sini, rumah-rumah penduduk sengaja dibiarkan dengan bentuk dan material yang masih alami.

Di kampung wisata ini, anda akan menjumpai kaum wanita khususnya ibu-ibu membuat kerajinan anyaman daun pandan. Barang yang biasa dibuat adalah noken dan topi. Kerajinan ini bisa anda beli untuk suvenir. Harga noken dan topi di Sauwadarek relatif murah, anda bisa membawa pulang berbagai kerajinan anyaman dengan harga berkisar Rp.25.000-Rp.50.000 per buah tergantung jenis dan ukurannya.

Keunikan lain di Kampung Sauwandarek adalah atraksi memberi makan ikan di pantai. Puluhan ikan liar dengan sekejap akan berkerumun saat kita menebarkan makanan di pantai. Cukup dengan menebus makanan ikan seharga Rp.50.000, rasanya sayang jika kesempatan langka ini anda lewatkan.

Bagi pecinta treking, anda bisa melanjutkan perjalanan menuju sebuah telaga. Oleh masyarakat setempat telaga ini disebut Telaga Yenauwyau. Uniknya telaga di sini berair asin. Menurut Kepala Desa Sauwandarek, Korinus Urbata, dahulu di telaga ini terdapat sebuah goa yang menghubungkan telaga dengan laut. Sebelum goa itu tertutup, tak jarang ikan lumba-lumba dari laut masuk ke telaga. Tapi sayang, pemandangan itu sekarang sudah hilang.

Bagi masyarakat Sauwandarek, telaga ini dipercaya sebagai tempat keramat yang dihuni oleh seekor penyu putih. Tidak sembarang orang bisa melihat wujud penyu tersebut. Namun jika kebetulan menjumpai penyu ini, masyarakat percaya orang tersebut akan mendapatkan keberuntungan.

Telaga ini menjanjikan panorama alami. Di tepi telaga terdapat semacam dermaga yang berfungsi untuk menikmati panorama telaga sekaligus tempat melepas lelah setelah berjalan kaki sekitar 25 menit mencapai lokasi telaga. Selain itu, anda juga bisa menyaksikan burung Maleo Waigeo (Spilocuscus papuensis), burung endemik di wilayah Sauwadarek.

Untuk mencapai Sauwandarek, anda bisa menggunakan kapal reguler dari Sorong menuju Ibu Kota Kabupaten Raja Ampat, Waisai. Perjalanan ini akan ditempuh dalam waktu 2-4 jam. Tarif kapal reguler ini tergolong murah, berkisar Rp.100.000 hingga Rp.125.000 perorang, sekali jalan. Dari Waisai perjalanan lalu dilanjutkan menuju Sauwandarek dengan menggunakan long boat selama 4 jam. Biaya sewa long boat berkisar Rp.300.000, sekali jalan.

Tetapi jika ingin cepat, anda bisa juga menyewa speed boat dari Sorong. Dengan biaya sewa sekitar Rp 5 juta perhari, perjalanan Sorong-Sauwandarek hanya akan ditempuh dalam waktu 3 jam perjalanan.

Sepanjang perjalanan menuju Sauwandarek, tak jarang anda akan dimanjakan oleh keindahan karang, ikan, dan biota laut lainnya. Laut yang masih alami membuat ekosistem di wilayah Raja Ampat ini bisa dinikmati dengan mata telanjang.

Mangrove Terpanjang di Asia Rusak


Alih fungsi hutan lindung Air Telang di Kawasan Tanjung Api-api, Sumatera Selatan, menjadi kawasan hutan tanaman industri pada April 2007 telah merusak kawasan mangrove atau bakau terpanjang di Asia tersebut. Sebelumnya, kawasan itu merupakan bagian dari kawasan Taman Nasional Sembilang yang ditetapkan Menteri Kehutanan, Nomor 95/2003.

Staf Wahana Bumi Hijau (WBH) Sumatera Selatan, Aidil Fitri, di sela "Dialog Publik Menimbang Demokrasi Lokal” di Palembang, Sabtu (27/12), mengatakan, hutan mangrove di Air Telang dan kawasan Tanjung Api-api termasuk lahan basah dan perlu dilindungi.

Apalagi Indonesia masuk salah satu dari 116 negara yang meratifikasi konvensi perlindungan lahan basah tersebut. Luasan lahan 1.200 hektar diajukan untuk pembangunan Pelabuhan Tanjung Api-api, di dalamnya termasuk kawasan Air Telang, dengan panjang mangrove 35 km. Mangrove itu memiliki kualitas terbaik dan terpanjang di Asia.

Terdapat pula 213 spesies burung, di antaranya puluhan spesies endemis, misalnya jenis burung pecuk ular asia, Anhinga melanogaster, burung pelican berkoloni, Pelecanus philippinensis yang terdapat di region Indo Malaya, bangau storm, Ciconia stormi, dan rangkong, Buceros vigil.

”Total burung air pantai yang memanfaatkan dataran lumpur di kawasan itu sekitar satu juta ekor. Dari jumlah tersebut, 80.000 ekor di antaranya dapat dijumpai di Delta Banyuasin. Di sana terdapat pula 2.600 gajah timur dan beberapa ribu spesies burung laut,” kata Aidil.

Di pesisir Banyuasin, termasuk Pelabuhan Tanjung Api-api, terdapat juga dua jenis lumba-lumba, yakni lumba-lumba bongkok (Sousa chinensis) dan pesut (Orcaella brevirostris). Convention International of Trade of Endangered Species (CITES) memasukkan lumba-lumba bongkok dalam CITES Apendix I dan pesut dalam Appendix II.

Alih fungsi

Izin usaha alih fungsi hutan Air Telang seluas 600 hektar menjadi hutan tanaman industri (HTI) dilakukan April 2007 meskipun gubernur dan menteri kehutanan tahu bahwa kawasan itu adalah bagian dari Taman Nasional Sembilang.

Kawasan hutan disebutkan di atas masuk dalam Taman Nasional Sembilang, sesuai Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 95/2003. Luas Taman Nasional Sembilang 202.000 hektar.

Direktur WBH Sumsel Dedy menambahkan, hutan rawa gambut Merang Kepayang dengan lapisan gambut sampai 7 meter seluas 210.000 hektar, 13.000 di antaranya dialihfungsikan sebagai kawasan lindung bagi habitat langka buaya senyulong. Sesuai Kepres Nomor 32/1990, gambut dengan ketebalan lebih dari 3 meter harus dilindungi.

Pemerintah juga memberikan izin usaha hutan tanaman industri kepada PT Rimba Hutani Mas (Grup Sinar Mas) untuk mengelola lahan gambut seluas 30.000 ha. Selain itu, aksi pembalakan liar meluas, setidaknya lima unit penggergajian kayu di Desa Merang dan Desa Kepayang masih beroperasi.

Ngarai Sianok yang Terhidang "Lezat"

Hidangan di jagat raya, kunyahlah dengan perasaan ingin tahu. Karena di baliknya terhampar perasaan yang tidak akan kau temui di meja belajar….. (The Journey, Gola Gong, 2008)

Sebuah pengantar yang disampaikan Gola Gong dalam bukunya The Journey yang diterbitkan tahun lalu terngiang ketika menatap keindahan Ngarai Sianok di Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Bagaimana mungkin ya Allah? Bagaimana mungkin bisa seindah ini?

Ngarai Sianok adalah dua dinding bukit yang berdiri berhadapan hampir tegak lurus. Tingginya sekitar 100-120 meter dan panjang sekitar 15 km. Dindingnya membentuk semacam jurang dimana terdapat sawah yang membentang luas dan kelokan sungai di dasarnya. Di bagian atas ngarai ditumbuhi pepohonan dan rerumputan.

Ngarai ini membagi lokasi menjadi dua bagian, kawasan Bukit Tinggi dan Gunung Singgalang. Jika dinikmati dari Taman Panorama yang sengaja dibangun oleh pemerintah daerah di bagian kawasan Bukit Tinggi, keindahan Ngarai Sianok tampak mencengangkan. Cadas yang sangat tangguh, tidak kunjung berubah meski panas dan hujan silih berganti.

Memang di sinilah letak keistimewaan Ngarai Sianok. Apalagi pada saat matahari terbit dan hampir tenggelam. Berbagai wisatawan mancanegara bahkan mengaku tak merasa lengkap jika tidak mengunjungi Ngarai Sianok dalam jadwal perjalanan wisata mereka ke Indonesia. Selain dari Taman Panorama, keindahan Ngarai Sianok juga dapat dinikmati dengan turun langsung ke dasar jurangnya yang merupakan area pemukiman dan persawahan penduduk.

Jika ingin menikmati keindahan ngarai dari Taman Panorama, pengunjung cukup membayar retribusi sebesar Rp 3.000 per orang. Di Taman Panorama, pengunjung juga dapat menikmati lokasi wisata Lobang Jepang yang berlokasi di bawah tanah kawasan Ngarai Sianok. Hanya saja perlu membayar biaya pemandu lagi sekitar Rp 20.000.

Lokasi Taman Panorama Ngarai Sianok sendiri terletak di dalam kota Bukit Tinggi. Jaraknya kurang dari 1 km dari pusat kota Bukit Tinggi, yaitu kawasan Jam Gadang dan Pasar Atas. Pengunjung dapat menjangkaunya baik dengan kendaraan pribadi maupun dengan berjalan kaki sambil menikmati sejuknya udara Bukit Tinggi. Di dalam kawasan Taman Panorama, disediakan pondok-pondok bagi pengunjung untuk bersantai dan menikmati pemandangan ngarai sambil sesekali melihat kelincahan monyet-monyet ngarai yang hidup bebas di kawasan taman. Jika memiliki makanan, berbagilah sedikit kepada mereka. Tapi namanya binatang, pasti mereka akan menunggu untuk diberi makanan lagi.

Di dalam kawasan taman juga terdapat sebuah panggung teater mini yang sesekali digunakan untuk pertunjukan budaya pada waktu-waktu tertentu. Jika berdiri di atas panggung batu tersebut, luas sapu mata menjadi lebih lebar dan keindahan tebing yang berderet makin membuat berdecak kagum.

Keindahan ini yang memang pantang dilewatkan oleh banyak fotografer dan pelukis lokal maupun mancanegara untuk diabadikan. Begitu pula yang dipahami oleh masyarakat sekitar ngarai. Mereka menjual berbagai cendera mata yang menolong para pengunjung untuk terus mengenang keindahan ngarai dan bersyukur atasnya jika sudah pulang ke daerah asalnya.

Di sebelah utara taman, terdapat kios-kios cendera mata yang menawarkan kaus, tas, rajutan, kerajinan tangan rotan hingga lukisan yang merekam kedahsyatan Ngarai Sianok. Kaus dan baju dengan motif khusus dijual dengan kisaran harga Rp 30.000-75.000. Sementara itu, lukisan di atas kanvas dengan berbagai ukuran dijual dengan harga Rp 5.000 hingga ratusan ribu rupiah.

Berjalan hingga ujung utara taman, terdapat sebuah menara setinggi 20 meter. Decak kagum di atas panggung teater mini bertambah derajatnya ketika menapaki tangga menara dan mendapati bahwa fakta alam yang sedang terhampar bukanlah buatan manusia.

Jam Gadang, Gengsi Kota Bukittinggi

Jika ditanyakan kepada masyarakat Bukittinggi apa yang menjadi ikon dari kota berudara sejuk ini, maka dengan serempak mereka akan menjawab: Jam Gadang!

Sejak awal berdirinya, lokasi Jam Gadang merupakan jantung kota Bukittinggi. Bangunan semacam tugu setinggi 26 meter dengan bulatan jam di keempat sisi bagian atasnya ini dibangun pada tahun 1826 sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada Controleur atau Sekretaris Kota Bukittinggi waktu itu, Rook Maker. Jadi, umurnya sudah lebih dari 180 tahun. Pembangunannya diselesaikan oleh arsitek Yazin dan Sutan Gigi Ameh dan biaya pembangunan ‘hadiah’ ini mencapai 3.000 Gulden pada saat itu.

Bentuk atap Jam Gadang telah mengalami tiga kali penyesuaian dari waktu ke waktu. Pada jaman Belanda, atapnya berbentuk bulat dengan patung ayam jantan di atasnya. Pada waktu Jepang berkuasa di tanah air, mereka mengganti bentuk atapnya seperti atap klenteng. Kemudian setelah kemerdekaan diproklamirkan, bentuk atapnya diubah menjadi bergonjong empat seperti atap rumah adat Minangkabau dan bermotifkan pucuk rebung. Bagian atas Jam Gadang ini masih terlihat dari kawasan Jempatan Limpapeh yang berjarak sekitar 1 km dari lokasi.

Bulatan jam yang terletak di bagian atas di keempat sisi tugu ini berdiameter 80 cm dengan latar belakang putih sementara tulisan angka dan jarumnya berwarna hitam. Terdapat keunikan penulisan angka pada Jam Gadang. Angka empat yang seharusnya dilambangkan dengan ‘IV’ dalam bentuk Romawi, dituliskan ‘IIII’.

Jam Gadang yang denah dasarnya berukuran 13x4 meter ini berdiri di atas kawasan Taman Sabai Nan Aluih di depan Istana Bung Hatta. Di kawasan ini ditanam sejumlah pohon sehingga makin terasa rindang. Pemerintah daerah juga melengkapinya dengan kursi-kursi beton untuk bersantai. Taman ini selalu ramai, mulai pagi, siang, sore hingga malam hari. Tua muda selalu memanfaatkan kawasan ini untuk bersantai. Bahkan, banyak orang tua muda membawa putra-putrinya bermain di tempat ini pada sore hari.

Di kawasan ini juga tersedia andong atau sado yang disebut Bendi untuk berkeliling-keliling di kawasan pusat kota. Untuk masyarakat biasa, tarif yang dikenakan biasanya Rp 2.500 jauh dekat. Sementara khusus untuk wisatawan, tarifnya bisa membengkak hingga Rp 25.000-Rp 50.000 sesuai negosiasi.

Di dekatnya, terdapat pula Pasar Atas yang merupakan pusat perdagangan di Bukittinggi. Pasar ini biasanya ramai pada hari Rabu, Sabtu dan Minggu. Berbagai barang dijual di pasar ini, mulai dari sayur dan buah-buahan, pakaian hingga berbagai macam kerajinan tangan berupa tenun, kerajinan perak, hingga kaus dan baju yang menunjukkan citra Minangkabau. Semuanya dijual dengan harga miring.

Di Bukittinggi, banyak sekali obyek wisata yang bisa disambangi. Namun Jam Gadang biasanya menjadi sentra para wisatawan sebelum beranjak ke obyek wisata lainnya. Memilih beberapa penginapan yang berserakan di sekitar kawasan Jam Gadang juga dapat menjadi pilihan jika ingin secara leluasa melihat jam ini berpose pada waktu terang ataupun gelap, yaitu di sepanjang Jalan Laras Dt. Bandaro-jalan Soekarno Hatta-Jalan Dr. A. Rivai-Jalan Jenderal Sudirman.

Jika menengadah melihat puncak Jam Gadang pada waktu pagi hingga sore hari, kemegahannya tampak sempurna dengan didukung oleh latar belakang langit yang biru. Sedangkan pada waktu malam, temaram lampu taman yang berwarna kuning membuat taman ini tampak eksotik dan romantis. Pantang meninggalkan kawasan Jam Gadang tanpa foto. Namun, jangan khawatir, jika datang ke kawasan ini tanpa kamera, pengunjung dapat memanfaatkan jasa fotografer keliling untuk mengabadikan diri dengan latar belakang Jam Gadang.

Ayo Berwisata di Hutan Kota Srengseng

Seiring menjamurnya pembangunan infrastruktur kota, membuat sebagian orang menilai negatif soal ketersediaan ruang terbuka hijau di tengah kota Jakarta. Karena itu, tak mustahil jika keberadaan hutan kota Srengseng yang tampil begitu menawan dilupakan begitu saja oleh warga Jakarta. Padahal, areal seluas 15,3 hektar itu bisa menjadi pilihan alternatif keluarga untuk mengisi libur akhir pekan.

Sikap warga Jakarta yang memandang sebelah mata hutan kota Srengseng tak dapat dipungkiri. Sebab, selain promosinya kurang, warga Jakarta justru memilih lokasi wisata di luar kota. Buktinya, setiap libur akhir pekan ribuan warga Jakarta, berbondong-bondong ke kawasan Puncak, Bogor, dan Bandung.

Namun masih ada warga Jakarta lain yang masih "menghargai" sejumlah tempat wisata yang ada di kotanya. Pada libur akhir pekan mereka berjubel di kawasan wisata Ancol, Ragunan, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dan sejumlah lokasi wisata lainya, termasuk mengunjungi hutan kota Srengseng yang berada di Kelurahan Kepaladua, Kembangan, Jakarta Barat.

"Biasanya saya datang ke sini setiap hari Minggu, lumayan bisa sedikit melepas kepenatan selama seminggu bekerja, Selain murah tempatnya juga sejuk," kata Nur Soleh, Warga Kembangan Utara.

Pria paruh baya itu mengaku cukup senang menghabiskan waktu di hutan kota Srengseng. Ia bersama keluarganya sering jalan-jalan di hutan kota Srengseng saat sore hari. Bahkan, ia mengaku sering memancing di Danau Srengseng seluas 6.000 meter persegi. "Kalau pas lagi sendiri saya juga sering mancing di danau, selain teduh ikannya juga banyak," imbuh Nur Soleh.

Hutan kota dengan ribuan pohon yang terdiri dari 63 jenis tanaman itu, dibangun pada 1993 pada era kepemimpinan Gubernur R Suprapto. Dan ketika itu Walikota Jakarta Barat dijabat oleh Eddy Ruchyat. Tapi sayang, hingga saat ini yang mengunjungi hutan kota Srengseng masih sebatas warga di Jakarta Barat saja, khususnya anak-anak sekolah, pemuda-pemudi yang memadu kasih dan segelintir warga di Kecamatan Kembangan saja.

Pembuatan hutan kota Srengseng tidak dilakukan dalam waktu singkat, melainkan secara bertahap dengan menggunakan sistem sanitary landfill atau sistem gali uruk antara sampah dan tanah. Cara ini dipilih karena, lahan seluas 15,3 hektar tersebut dulunya merupakan tempat pembuangan sampah. Namun setelah sekian kali dilakukan gali uruk terbentuklah hamparan yang luas, bahkan bau busuk yang semula dikeluhkan warga hilang dengan banyaknya tanaman produktif yang ditanam di hutan kota Srengseng.

Saat ini hutan kota Srengseng saat ini memiliki kebun bibit seluas 2,5 hektar diantaranya ditanami 42 jenis pohon produktif, pelindung, dan 11 jenis tanaman anggrek. Tak hanya itu, dengan adanya danau buatan membuat kawasan hutan kota ini menjadi jauh lebih indah. Sebab, di tengah danau tersebut terdapat pulau-pulau kecil lengkap dengan tanaman seperti cery dan karsen. Karena itu, banyak burung-burung yang mencari makan hinggap di atas pepohonan tersebut.

Dalam mempromosikan kawasan hutan kota Srengseng, Pemerintah Kota Jakarta Barat sejauh ini sebenarnya tidak hanya berdiam diri saja. Bahkan sejak periode kepemimpinan Walikota Jakarta Barat yang dipegang oleh Sarimun Hadisaputra pada tahun 1998, di kawasan hutan tersebut setiap tahun diselenggarankan pesta rakyat bertajuk "Betawi Days" yang digelar setiap bulan Juni.

Namun, beberapa tahun terakhir ini promosi hutan kota Srengseng selama ini termasuk sukses sebagai sebuah proyek percontohan bagi DKI Jakarta dan Nasional. Hutan kota ini juga sebagai wujud keseriuasan Pemprov DKI dalam menciptakan ruang terbuka hijau di perkotaan. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana masyarakat terus melestarikan dan bisa memanfaatkan hutan kota satu-satunya di DKI Jakarta ini.