Kereta api Bandara Internasional Soekarno-Hatta direncanakan akan
selesai dibangun pada 2013 dan akan mulai dioperasikan pada 2014 untuk
menambah aksesibilitas para pengguna jasa penerbangan menuju dan ke
bandara tersebut.
"Kami mengharapkan jalur Commuter Line
Bandara Soekarno-Hatta akan selesai pada 2013 sehingga pada 2014 bisa
beroperasi," kata Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian
Perhubungan, Tundjung Inderawan, ketika ditemui dalam acara sarasehan
"Prospek KA Bandara" di Jakarta, Selasa (17/7/2012).
Menurut
Tundjung, dengan demikian, pada 2014 para pengguna jasa transportasi
udara akan memiliki alternatif selain menggunakan kendaraan pribadi atau
umum, yaitu dengan menggunakan kereta api bandara tersebut.
Apalagi,
ujar dia, transportasi kereta api juga merupakan moda transportasi
dengan multikeunggulan, antara lain kapasitas angkut besar (massal),
cepat, hemat lahan dan energi, serta ramah lingkungan.
Tundjung
memaparkan, dalam rangka pengembangan KA Bandara Soekarno-Hatta,
pihaknya telah mengembangkan jalur KA Bandara menjadi dua jalur, yaitu
jalur Express Line di sebelah utara dan jalur Commuter Line di sebelah
selatan.
Jalur Express Line akan beroperasi dari
Manggarai-Tanah Abang-Duri-Angke-Pluit dan sejajar dengan jalan tol
bandara menuju Soekarno-Hatta. Sementara jalur Commuter Line adalah
melalui Manggarai-Tanah Abang-Duri-Grogol-Bojong Indah-Kalideres-Tanah
Tinggi dan menuju Bandara Soekarno-Hatta.
Ia juga menuturkan,
untuk rencana Express Line telah dilaksanakan penandatanganan dengan PT
Sarana Multi Infrastruktur yang akan menentukan konsultan untuk
mengkaji seluruh dokumen, termasuk visibilitas, rancangan dasar, dan
amdal.
Sedangkan untuk Commuter Line yang akan melalui daerah
Tangerang, Banten, akan dilakukan proses pembangunannya oleh PT Kereta
Api Indonesia (KAI).
"Dirjen Perkeretapian dalam mendukung
jalur Commuter Line, saat ini sedang melaksanakan pembangunan jalur
ganda lintas Duri-Tangerang sepanjang 19,31 kilometer," kata Tundjung.
Pembicara
lainnya, Direktur Personalia dan Umum PT Angkasa Pura II Endang
Sumiarsa, mengatakan, pembangunan KA Bandara Soekarno-Hatta merupakan
hal yang sangat prospektif.
Menurut Endang, hal itu karena
jumlah penumpang Bandara Soekarno-Hatta telah melonjak dari 37,14 juta
per tahun pada 2009 menjadi 44,35 juta per tahun pada 2010, padahal
kapasitasnya hanya sebesar 22 juta orang per tahun.
Karenanya,
ujar dia, keberhasilan pembangunan KA Bandara Soekarno-Hatta juga harus
didukung oleh empat hal, yaitu aksesibilitas, sosialisasi manfaat dari
pemerintah daerah ke masyarakat setempat, peran BUMN/BUMD, serta
dukungan pemerintah pusat melalui RAPBN.
Untuk merealisasikan pembangunan KA Bandara, PT KAI bersama-sama dengan PT Angkasa Pura II telah membuat perusahaan patungan (joint venture) yang dinamakan PT KAI Railink dengan jumlah saham yaitu PT KAI sebesar 60 persen dan PT AP II sebesar 40 persen.
Sumber : ANT
Thursday, October 18, 2012
Tahun Depan, Kereta Api ke Bandara Soetta cuma Sejam dari Sudirman
Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan optimistis pembangunan kereta api
bandara bisa selesai pada tahun depan. Untuk menuju bandara dengan
melakukan kereta api dari stasiun Sudirman hanya butuh waktu sejam.
"Tapi ini bukan kereta ekspres. Ini cuma kereta ekonomi deluxe yang berhenti di setiap stasiun. Jarak tempuhnya sekitar 60 menit," kata Dahlan selepas melakukan Rapat Pimpinan di kantor Telkom Gatot Subroto Jakarta, Selasa (31/7/2012).
Dahlan menganggap, pembangunan kereta ekonomi ini lebih cepat dibanding pembangunan kereta ekspres. Di sisi lain, pembangunan kereta ekspres memerlukan dana yang besar.
Rencananya, PT Kereta Api Indonesia (KAI) memang akan membuat kereta api bandara dengan dua rute. Pertama, kereta biasa dengan Stasiun Manggarai-Sudirman-Tanah Abang-Duri-Grogol-Bojong Indah-Kalideres-Tanah Tinggi-Bandara Soekarno Hatta.
Sementara rute kedua yang rencananya akan memakai kereta ekspres akan melaju dari Manggarai-Sudirman-Tanah Abang-Duri-Angke-Pluit-Bandara Soekarno-Hatta. Namun ini akan melalui jalur model layang. "Tapi kalau soal pembebasan tanah, saya tidak mau ngomong," katanya.
Sumber : Kompas.com
"Tapi ini bukan kereta ekspres. Ini cuma kereta ekonomi deluxe yang berhenti di setiap stasiun. Jarak tempuhnya sekitar 60 menit," kata Dahlan selepas melakukan Rapat Pimpinan di kantor Telkom Gatot Subroto Jakarta, Selasa (31/7/2012).
Dahlan menganggap, pembangunan kereta ekonomi ini lebih cepat dibanding pembangunan kereta ekspres. Di sisi lain, pembangunan kereta ekspres memerlukan dana yang besar.
Rencananya, PT Kereta Api Indonesia (KAI) memang akan membuat kereta api bandara dengan dua rute. Pertama, kereta biasa dengan Stasiun Manggarai-Sudirman-Tanah Abang-Duri-Grogol-Bojong Indah-Kalideres-Tanah Tinggi-Bandara Soekarno Hatta.
Sementara rute kedua yang rencananya akan memakai kereta ekspres akan melaju dari Manggarai-Sudirman-Tanah Abang-Duri-Angke-Pluit-Bandara Soekarno-Hatta. Namun ini akan melalui jalur model layang. "Tapi kalau soal pembebasan tanah, saya tidak mau ngomong," katanya.
Sumber : Kompas.com
Ini Dia 5 Grand Design Bandara Soekarno Hatta
PT Angkasa Pura II (Persero) secara resmi akan memulai program
pengembangan Bandara Soekarno Hatta menjadi sebuah kawasan Aerotropolis.
Ada lima agenda besar yang akan menjadi fokus Angkasa Pura II dalam
melakukan tahapan pengembangan.
Direktur Utama PT Angkasa Pura II Tri S Sunoko menjelaskan pengembangan Bandara Soekarno Hatta merupakan jawaban dari isu keterbatasan kapasitas penumpang yang terjadi. Hingga akhir 2011, Bandara Soekarno Hatta mampu melayani 51,5 juta penumpang pada 2011. "Kami menargetkan kapasitas Bandara Soekarno Hatta bisa mencapai 62 juta penumpang per tahun. Proyek pengembangan bandara ini ditargetkan terealisasi pada akhir 2014," kata Tri saat pembukaan peletakan batu pertama (ground breaking) pengembangan Bandara Soekarno Hatta di Cengkareng, Banten, Kamis (2/8/2012).
Melalui ground breaking tersebut, PT Angkasa Pura akan menjadikan Bandara Soekarno Hatta menjadi bandara internasional berkelas dunia. Dengan jumlah kapasitas penumpang saat ini, Bandara Soekarno Hatta menjadi bandara dengan peringkat ke-12 dalam daftar bandara tersibuk di dunia versi Airport Council International (ACI).
Selain itu, pengembangan ini akan diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap ekonomi nasional sesuai Masterplan Percepatan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).
Ada lima agenda besar yang akan menjadi fokus PT Angkasa Pura II dalam melakukan tahapan pengembangan Bandara Soekarno Hatta ini, yaitu:
1. Optimalisasi runway untuk meningkatkan kapasitas pergerakan pesawat pada landasan pacu 1 dan 2.
2. Melakukan pengembangan Terminal 3 serta merevitalisasi Terminal 1 dan 2 untuk menambah kapasitas pergerakan penumpang.
3. Melakukan pembangunan terminal kargo baru (cargo village).
4. Melakukan pengembangan fasilitas penunjang (aksesibilitas dan fasilitas lain seperti area bisnis dan komersial).
5. Membangun integrated building yaitu bangunan penghubung antara Terminal 1 dan Terminal 2 yang multifungsi dan berkonsep one stop service. Integrated building ini tidak sekadar menjadi bangunan penghubung, tetapi merupakan bangunan yang sarat dengan berbagai fasilitas layanan untuk pengguna jasa. Di antaranya pembangunan stasiun kereta api, moda transportasi antar terminal tak berawak (people mover system), terminal bus, mal, hotel, area parkir dan sebagainya.
Terkait optimalisasi landasan pacu, Tri menjelaskan upaya yang dilakukan adalah melakukan rekonfigurasi runway 1 dan 2 dengan penambahan sejumlah taxiway serta memperluas kapasitas area parkir pesawat (apron) dari 125 pesawat menjadi 174 pesawat. Selain itu, ada program redistribusi slot time maskapai agar tidak menumpuk pada jam-jam tertentu, dibarengi dengan penambahan jam operasi hingga tengah malam pada sejumlah bandara tujuan.
"Saat ini pergerakan pesawat di bandara Soekarno Hatta mencapai 52 pergerakan per jam. Dengan optimalisasi kedua runway, kapasitas pergerakan akan ditingkatkan menjadi 62 pergerakan per jam," tambahnya.
Target setelah 2014 Setelah kapasitas penumpang tercapai sebesar 62 juta penumpang per tahun pada 2014, PT Angkasa Pura juga akan merencanakan pembangunan landasan pacu ketiga dan keempat yang dialokasikan di sisi utara bandara.
"Awalnya runway 3 dan 4 ini adalah opsi. Tapi melihat tren yang ada, pembangunan runway tersebut adalah keharusan," tambahnya.
Dengan tambahan runway tersebut, kapasitas bandara Soekarno Hatta bisa mencapai 87 juta penumpang per tahun dan 234 pergerakan pesawat per jam.
Selain itu juga melakukan pembebasan lahan secara bertahap sesuai kebutuhan hingga mencapai 830 ha. Pengembangan Terminal 3 Terkait pengembangan Terminal 3, PT Angkasa Pura II akan meningkatkan kapasitas dari 4 juta penumpang per tahun menjadi 25 juta penumpang per tahun.
Rencana tersebut akan disusul dengan revitalisasi Terminal 1 dan Terminal 2. Terminal 1 saat ini berkapasitas sembilan juta penumpang per tahun. Nantinya akan dikembangkan hingga 18 juta penumpang per tahun. Sedangkan kapasitas Terminal 2 akan dikembangkan dari 9 juta penumpang menjadi 19 juta penumpang per tahun.
"Pengembangan Terminal 3 harus dilakukan lebih dulu agar operasional penerbangan yang ada sekarang tidak terganggu," tambahnya. Karena nantinya sebelum Terminal 1 dan Terminal 2 dikembangkan, seluruh kegiatan operasional akan dialihkan ke Terminal 3.
Sumber : Kompas.com
Direktur Utama PT Angkasa Pura II Tri S Sunoko menjelaskan pengembangan Bandara Soekarno Hatta merupakan jawaban dari isu keterbatasan kapasitas penumpang yang terjadi. Hingga akhir 2011, Bandara Soekarno Hatta mampu melayani 51,5 juta penumpang pada 2011. "Kami menargetkan kapasitas Bandara Soekarno Hatta bisa mencapai 62 juta penumpang per tahun. Proyek pengembangan bandara ini ditargetkan terealisasi pada akhir 2014," kata Tri saat pembukaan peletakan batu pertama (ground breaking) pengembangan Bandara Soekarno Hatta di Cengkareng, Banten, Kamis (2/8/2012).
Melalui ground breaking tersebut, PT Angkasa Pura akan menjadikan Bandara Soekarno Hatta menjadi bandara internasional berkelas dunia. Dengan jumlah kapasitas penumpang saat ini, Bandara Soekarno Hatta menjadi bandara dengan peringkat ke-12 dalam daftar bandara tersibuk di dunia versi Airport Council International (ACI).
Selain itu, pengembangan ini akan diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap ekonomi nasional sesuai Masterplan Percepatan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).
Ada lima agenda besar yang akan menjadi fokus PT Angkasa Pura II dalam melakukan tahapan pengembangan Bandara Soekarno Hatta ini, yaitu:
1. Optimalisasi runway untuk meningkatkan kapasitas pergerakan pesawat pada landasan pacu 1 dan 2.
2. Melakukan pengembangan Terminal 3 serta merevitalisasi Terminal 1 dan 2 untuk menambah kapasitas pergerakan penumpang.
3. Melakukan pembangunan terminal kargo baru (cargo village).
4. Melakukan pengembangan fasilitas penunjang (aksesibilitas dan fasilitas lain seperti area bisnis dan komersial).
5. Membangun integrated building yaitu bangunan penghubung antara Terminal 1 dan Terminal 2 yang multifungsi dan berkonsep one stop service. Integrated building ini tidak sekadar menjadi bangunan penghubung, tetapi merupakan bangunan yang sarat dengan berbagai fasilitas layanan untuk pengguna jasa. Di antaranya pembangunan stasiun kereta api, moda transportasi antar terminal tak berawak (people mover system), terminal bus, mal, hotel, area parkir dan sebagainya.
Terkait optimalisasi landasan pacu, Tri menjelaskan upaya yang dilakukan adalah melakukan rekonfigurasi runway 1 dan 2 dengan penambahan sejumlah taxiway serta memperluas kapasitas area parkir pesawat (apron) dari 125 pesawat menjadi 174 pesawat. Selain itu, ada program redistribusi slot time maskapai agar tidak menumpuk pada jam-jam tertentu, dibarengi dengan penambahan jam operasi hingga tengah malam pada sejumlah bandara tujuan.
"Saat ini pergerakan pesawat di bandara Soekarno Hatta mencapai 52 pergerakan per jam. Dengan optimalisasi kedua runway, kapasitas pergerakan akan ditingkatkan menjadi 62 pergerakan per jam," tambahnya.
Target setelah 2014 Setelah kapasitas penumpang tercapai sebesar 62 juta penumpang per tahun pada 2014, PT Angkasa Pura juga akan merencanakan pembangunan landasan pacu ketiga dan keempat yang dialokasikan di sisi utara bandara.
"Awalnya runway 3 dan 4 ini adalah opsi. Tapi melihat tren yang ada, pembangunan runway tersebut adalah keharusan," tambahnya.
Dengan tambahan runway tersebut, kapasitas bandara Soekarno Hatta bisa mencapai 87 juta penumpang per tahun dan 234 pergerakan pesawat per jam.
Selain itu juga melakukan pembebasan lahan secara bertahap sesuai kebutuhan hingga mencapai 830 ha. Pengembangan Terminal 3 Terkait pengembangan Terminal 3, PT Angkasa Pura II akan meningkatkan kapasitas dari 4 juta penumpang per tahun menjadi 25 juta penumpang per tahun.
Rencana tersebut akan disusul dengan revitalisasi Terminal 1 dan Terminal 2. Terminal 1 saat ini berkapasitas sembilan juta penumpang per tahun. Nantinya akan dikembangkan hingga 18 juta penumpang per tahun. Sedangkan kapasitas Terminal 2 akan dikembangkan dari 9 juta penumpang menjadi 19 juta penumpang per tahun.
"Pengembangan Terminal 3 harus dilakukan lebih dulu agar operasional penerbangan yang ada sekarang tidak terganggu," tambahnya. Karena nantinya sebelum Terminal 1 dan Terminal 2 dikembangkan, seluruh kegiatan operasional akan dialihkan ke Terminal 3.
Sumber : Kompas.com
Friday, October 12, 2012
KRI Dewaruci, Duta Pariwisata Indonesia
KRI Dewaruci kini berusia 60 tahun. Banyak jasa dari kapal yang
terbilang tua itu dalam melahirkan ribuan pelaut-pelaut tangguh TNI AL
melalui Akademi Angkatan Laut guna mengawaki beragam kapal perang yang
dimilikinya. Tak heran apabila julukan "Ibu" disematkan pada kapal tiang
tinggi milik TNI AL ini.
KRI Dewaruci memiliki 16 layar beragam ukuran. Dengan lebar 9,50 meter, kapal tersebut memiliki panjang 58,30 meter dengan bobot 874 ton. Selain itu, kapal dengan tipe Tall Ships Barquentine itu memiliki kecepatan mesin 10,5 knot dan kecepatan layar 9 knot.
Kehadiran KRI Dewaruci ketika melakukan pelayaran keliling dunia mendapatkan banyak apresiasi dari pengunjung yang tertarik. Kapal dengan segudang prestasi itu telah menjadi legenda dan membawa harum nama Bangsa Indonesia. Tak heran ketika Kompas.com menyambangi kapal, tampak sejumlah piagam dan cinderamata diberikan dari negara-negara yang pernah disinggahinya.
Menengok bagian dalam kapal, juga banyak cinderamata dan plakat ditempelkan pada dinding. Sebuah ruangan yang tak begitu besar tempat penerima tamu tampak menampilkan suasana mewah berkesan klasik, lengkap dengan pernak-perniknya. Sementara itu, di ruang kemudi kapal, atau yang disebut ruang nahkoda, terdapat dua kemudi kapal dan sejumlah alat navigasi, seperti GPS dan radar.
Meski begitu, para kadet Akademi Angkatan Laut yang belajar di kapal tersebut juga harus bisa melakukan pelayaran dengan navigasi astronomi selain menggunakan GPS atau radar. Pasalnya, hal itu merupakan pengetahuan dasar bagi calon pelaut.
Bercerita soal pengalaman, berbagai tantangan di lautan sudah menjadi hal biasa yang dilalui kapal latih KRI Dewaruci, mulai dari gelombang ganas, sampai yang adem ayem pun telah dilalui. "Pengalaman yang paling menegangkan waktu closing Pasifik, waktu itu kan lautan tidak pernah teduh, selalu gelombang besar. Waktu itu di Samudra Pasifik, gelombang paling besar rata-rata 12 meter sampai 14 (meter), baik dari arah lambung maupun dari halauan," kata Komandan KRI Dewaruci Letkol Laut (P) Haris Bima Bayuseto kepada wartawan, Kamis (11/10/2012).
Namun, hal itu, menurut Haris, dapat menjadi pelajaran berharga bagi para pelaut yang tengah dilatih. Berkat kedisiplinan awak dan kru kapal, gelombang besar tak membuat mereka surut mengarungi samudra. "Tantangannya, ya alam itu kan enggak boleh kita tantang, tidak bisa diprediksi. Kita ikuti saja sambil kita menyesuaikan. Kita belajar bagaimana cara menghindari badai, cara memanfaatkan ombak, di situ kita ambil semua," ujar Haris.
Di lautan pun, sambungnya, makanan yang tersedia sedikit berbeda dengan yang biasa disajikan pada umumnya di darat. "Kita hanya andalkan makanan kering, buah-buahan, tapi karena kita tugas kita harus siap," ungkapnya.
KRI Dewaruci senantiasa disambut meriah acap kali menyambangi setiap kota di mancanegara dalam perjalanan keliling dunianya. "Kalau di negara penerima, kesan kita, mereka selalu menerima kita dengan baik. Pemandu (asing) juga sering berebut mau menjadi pemandu di kapal ini," kata Haris.
Kini di usianya yang telah tua, meski akan digantikan dengan yang baru, KRI Dewaruci tetap menjadi simbol dan legenda untuk 'Ibu Pertiwi' atas prestasi dan jasanya menjalani berbagai misi, termasuk menjadi Duta Pariwisata Indonesia.
Sumber : Kompas.com
KRI Dewaruci memiliki 16 layar beragam ukuran. Dengan lebar 9,50 meter, kapal tersebut memiliki panjang 58,30 meter dengan bobot 874 ton. Selain itu, kapal dengan tipe Tall Ships Barquentine itu memiliki kecepatan mesin 10,5 knot dan kecepatan layar 9 knot.
Kehadiran KRI Dewaruci ketika melakukan pelayaran keliling dunia mendapatkan banyak apresiasi dari pengunjung yang tertarik. Kapal dengan segudang prestasi itu telah menjadi legenda dan membawa harum nama Bangsa Indonesia. Tak heran ketika Kompas.com menyambangi kapal, tampak sejumlah piagam dan cinderamata diberikan dari negara-negara yang pernah disinggahinya.
Menengok bagian dalam kapal, juga banyak cinderamata dan plakat ditempelkan pada dinding. Sebuah ruangan yang tak begitu besar tempat penerima tamu tampak menampilkan suasana mewah berkesan klasik, lengkap dengan pernak-perniknya. Sementara itu, di ruang kemudi kapal, atau yang disebut ruang nahkoda, terdapat dua kemudi kapal dan sejumlah alat navigasi, seperti GPS dan radar.
Meski begitu, para kadet Akademi Angkatan Laut yang belajar di kapal tersebut juga harus bisa melakukan pelayaran dengan navigasi astronomi selain menggunakan GPS atau radar. Pasalnya, hal itu merupakan pengetahuan dasar bagi calon pelaut.
Bercerita soal pengalaman, berbagai tantangan di lautan sudah menjadi hal biasa yang dilalui kapal latih KRI Dewaruci, mulai dari gelombang ganas, sampai yang adem ayem pun telah dilalui. "Pengalaman yang paling menegangkan waktu closing Pasifik, waktu itu kan lautan tidak pernah teduh, selalu gelombang besar. Waktu itu di Samudra Pasifik, gelombang paling besar rata-rata 12 meter sampai 14 (meter), baik dari arah lambung maupun dari halauan," kata Komandan KRI Dewaruci Letkol Laut (P) Haris Bima Bayuseto kepada wartawan, Kamis (11/10/2012).
Namun, hal itu, menurut Haris, dapat menjadi pelajaran berharga bagi para pelaut yang tengah dilatih. Berkat kedisiplinan awak dan kru kapal, gelombang besar tak membuat mereka surut mengarungi samudra. "Tantangannya, ya alam itu kan enggak boleh kita tantang, tidak bisa diprediksi. Kita ikuti saja sambil kita menyesuaikan. Kita belajar bagaimana cara menghindari badai, cara memanfaatkan ombak, di situ kita ambil semua," ujar Haris.
Di lautan pun, sambungnya, makanan yang tersedia sedikit berbeda dengan yang biasa disajikan pada umumnya di darat. "Kita hanya andalkan makanan kering, buah-buahan, tapi karena kita tugas kita harus siap," ungkapnya.
KRI Dewaruci senantiasa disambut meriah acap kali menyambangi setiap kota di mancanegara dalam perjalanan keliling dunianya. "Kalau di negara penerima, kesan kita, mereka selalu menerima kita dengan baik. Pemandu (asing) juga sering berebut mau menjadi pemandu di kapal ini," kata Haris.
Kini di usianya yang telah tua, meski akan digantikan dengan yang baru, KRI Dewaruci tetap menjadi simbol dan legenda untuk 'Ibu Pertiwi' atas prestasi dan jasanya menjalani berbagai misi, termasuk menjadi Duta Pariwisata Indonesia.
Sumber : Kompas.com
Kepulauan Mentawai, Surganya Peselancar
Kepulauan Mentawai di Sumatera Barat menjadi salah satu tujuan wisata
petualangan, budaya dan bahari. Di kepulauan ini juga tedapat beberapa
desa budaya yang sangat menarik untuk dikunjungi, seperti Desa Madobak,
Desa Ugai, dan Desa Matotonan. Untuk mencapai tiga desa ini maka Anda
perlu melalui jalur sungai dan jalan setapak dengan rute Muara
Siberut-Rokdok-Madobak-Ugai-Matotonan dengan jarak tempuh sekitar 5-6
jam.
Desa Madobak terkenal dengan air terjun Kulu Kubuk dengan dua tingkatan setinggi 70 meter. Selain mengunjungi air terjun Kulu Kubuk di Desa Madobak atau area perbatasan Taman Nasional Siberut di Desa Matotonan, Anda dapat berinteraksi dengan kehidupan keseharian masyarakat lokal dan berpartisipasi dalam upacara tradisional mereka.
Anda juga bisa berkunjung ke Danau Rua Oinan yang terletak di tengah hutan di Dusun Saumanganyak. Danau ini berbentuk muara dikelilingi pohon besar.
Bagi Anda yang gemar berselancar maka Kepulauan Mentawai adalah tempat sempurna untuk menantang adrenalin. Di kepulauan ini terdapat beberapa titik selancar dengan ombaknya yang besar dan tinggi, seperti di Desa Bosua yang memilki gulungan ombak mencapai 3 meter. Anda dapat menempuhnya sekira 4 jam dengan speedboat dari Kabupaten Tuapejat. Meskipun pantainya berkarang namun gulungan ombaknya sempurna dan telah terkenal di kalangan peselancar dunia.
Pilihan lokasi lain untuk berselancar adalah Pulau Nyang Nyang di Desa Katurei. Peselancar dari berbagai negara menyebut ombak di sini merupakan yang tertinggi di dunia, yaitu mencapai 4 meter. Pulau Karamajat masih di Desa Katurei juga memiliki ombak panjang dan tinggi yaitu mencapai 2 hingga 4 meter. Di desa ini juga tersedia penginapan terapung. Ombak di Pulau Koroniki, Awera, Teluk Sibigeu, Teluk Sinakak juga patut untuk dijajal.
Apabila Anda lebih memilih tempat yang ombaknya tidak terlalu besar maka bisa mengunjungi Pulau Siruso. Pulau ini cocok untuk rekreasi keluarga dengan pasir putih dan air laut jernih. Anda sekeluarga juga bisa berenang dan bermain pasir di tepi pantainya.
Pantai Bulasat bisa menjadi alternatif lain, selain memiliki pasir putih, juga sangat ramai dikunjungi wisatawan terutama hari libur keagamaan. Untuk menuju pantai ini, Anda bisa menggunakan kendaraan bermotor dan dimanjakan pemandangan alam hijau indah atau di pinggir jalan bisa berhenti untuk membeli durian dan kelapa muda.
Sumber : www.indonesia.travel
Desa Madobak terkenal dengan air terjun Kulu Kubuk dengan dua tingkatan setinggi 70 meter. Selain mengunjungi air terjun Kulu Kubuk di Desa Madobak atau area perbatasan Taman Nasional Siberut di Desa Matotonan, Anda dapat berinteraksi dengan kehidupan keseharian masyarakat lokal dan berpartisipasi dalam upacara tradisional mereka.
Anda juga bisa berkunjung ke Danau Rua Oinan yang terletak di tengah hutan di Dusun Saumanganyak. Danau ini berbentuk muara dikelilingi pohon besar.
Bagi Anda yang gemar berselancar maka Kepulauan Mentawai adalah tempat sempurna untuk menantang adrenalin. Di kepulauan ini terdapat beberapa titik selancar dengan ombaknya yang besar dan tinggi, seperti di Desa Bosua yang memilki gulungan ombak mencapai 3 meter. Anda dapat menempuhnya sekira 4 jam dengan speedboat dari Kabupaten Tuapejat. Meskipun pantainya berkarang namun gulungan ombaknya sempurna dan telah terkenal di kalangan peselancar dunia.
Pilihan lokasi lain untuk berselancar adalah Pulau Nyang Nyang di Desa Katurei. Peselancar dari berbagai negara menyebut ombak di sini merupakan yang tertinggi di dunia, yaitu mencapai 4 meter. Pulau Karamajat masih di Desa Katurei juga memiliki ombak panjang dan tinggi yaitu mencapai 2 hingga 4 meter. Di desa ini juga tersedia penginapan terapung. Ombak di Pulau Koroniki, Awera, Teluk Sibigeu, Teluk Sinakak juga patut untuk dijajal.
Apabila Anda lebih memilih tempat yang ombaknya tidak terlalu besar maka bisa mengunjungi Pulau Siruso. Pulau ini cocok untuk rekreasi keluarga dengan pasir putih dan air laut jernih. Anda sekeluarga juga bisa berenang dan bermain pasir di tepi pantainya.
Pantai Bulasat bisa menjadi alternatif lain, selain memiliki pasir putih, juga sangat ramai dikunjungi wisatawan terutama hari libur keagamaan. Untuk menuju pantai ini, Anda bisa menggunakan kendaraan bermotor dan dimanjakan pemandangan alam hijau indah atau di pinggir jalan bisa berhenti untuk membeli durian dan kelapa muda.
Sumber : www.indonesia.travel
Batik sampai Koteka, Berburu Oleh-oleh di Jayapura
Batik Papua. Mari berburu batik dengan motif-motif Papua. Aneka gambar cendrawasih, tifa, sampai motif kapak batu. Simbol cecak dan buaya pun juga banyak ditemukan di desain batik. Tentu aneka patung suku seperti suku Asmat maupun Sentani juga kerap muncul.
Warna-warna dominan adalah warna tanah dan merah batu bata. Namun, batik Papua juga hadir dengan warna-warna cerah menggoda seperti biru terang, kuning, merah, ungu, hingga merah jambu.
Salah satu toko favorit untuk berburu batik papua adalah toko Aneka Batik yang berada di Jalan Percetakan I. Aneka Batik memiliki dua toko di Jayapura. Namun di pusat kota Jayapura sendiri terdapat beberapa toko yang menjual batik papua.
Aneka Batik menjadi favorit karena motif dan warna yang dijual beragam. Serta harga yang bervariasi. Di sini dijual kain meteran dengan harga mulai dari Rp 30.000 per meter. Harga tergantung dari jenis kain, proses pembuatan, sampai pengunaan prada.
Kain sutra dengan teknik batik canting tentu lebih mahal. Di toko ini juga dijual busana untuk perempuan maupun kemeja dan pakaian anak-anak dari batik Papua. Konon, batik-batik ini sebenarnya dibuat di Pulau Jawa, tetapi hanya boleh dijual di Jayapura.
Mau yang lebih autentik bisa mampir ke Batik Port Numbay Papua yang berada di Kotaraja, Jayapura. Jimmy Affar, pemilik workshop batik tersebut, menjadi seorang seniman batik Papua dan seringkali disebut-sebut sebagai pelopor batik Papua.
Jika mampir ke workshop batik miliknya, tampak para mace (sebutan khas Papua untuk ibu) sibuk mencanting batik. Motif-motif dipikirkan sendiri oleh Jimmy dan ia merancang busana batik untuk perempuan. Di sini Anda bisa membeli batik Papua baik berupa kain maupun busana jadi. Tentu harganya lebih mahal, karena batik canting dan sebagian besar menggunakan bahan sutra.
Koteka dan Noken. Berburu suvenir unik dengan nuansa kayu dan temali, maka Pasar Hamadi menjadi pilihan tepat. Di sepanjang tepi Jalan Sentral Hamadi berjejer toko cenderamata. Setiap toko berjualan hal yang sama, koteka berbagai ukuran, noken atau tas khas Papua, sampai patung dan asbak dengan desain suku Asmat.
Ada pula, gelang dari akar dan gantungan kunci. Pilihan lain adalah lukisan kulit kayu. Jika memilih lukisan kulit kayu, coba cari motif orang menunggang ular besar yang merupakan legenda masyarakat Sentani. Namun, aneka lukisan lain bercorak khas Papua bisa juga menjadi pilihan Anda.
Koteka yang dijual memiliki beragam ukuran dan jenis bahan koteka. Tentu saja ini adalah koteka-koteka yang khusus dibuat untuk suvenir. Sehingga setiap koteka biasanya diberikan lukisan dengan motif-motif suku di Papua. Koteka dijual dengan kisaran mulai dari Rp 30.000.
Matoa. Buah asal tanah Papua ini begitu unik. Jika beruntung dan datang di saat musim berbuah Matoa, Anda bisa membelinya dengan harga lebih terjangkau. Walaupun tak bisa dibilang murah, karena kisaran harganya Rp 30.000 – Rp 80.000 per kilogram tergantung jenisnya.
Tetapi, jika tak lagi musim berbuah, harga pun melonjak. Bisa-bisa harga per kilogram mencapai Rp 50.000 bahkan lebih dari Rp 130.000 untuk jenis tertentu.
Matoa di Papua biasanya ada dua jenis yang dijual yaitu Matoa Kepala dan Matoa Papeda. Ada banyak penjaja buah matoa di Abepura tepatnya di Jalan Raya Abe-Kotaraja. Pilihan lain adalah berkunjung ke pasar tradisional.
Buah Matoa sendiri seperti buah rambutan. Walaupun kulitnya tak berbulu seperti rambutan. Namun daging dan biji di dalam kulitnya mirip rambutan. Berwarna putih, lembut dan berair banyak, serta terasa manis.
Agak sulit mendeskripsikan rasa dari buah Matoa. Ada rasa manis berair seperti rambutan, leci, dan kelengkeng. Lalu, ada pula buah Matoa yang memiliki selintasan rasa dan aroma seperti durian. Bahkan ada buah Matoa yang sedikit terasa kelapa.
Sumber :Kompas.com
Pulau Asuh, Surga Peselancar
Bentangan pasir putih yang kontras dengan warna air laut yang
hijau-biru menyambut kami di Pulau Asuh. Letih dalam perjalanan langsung
lenyap begitu kaki menapak pulau yang dihuni 23 keluarga di sebelah
barat Pulau Nias, Sumatera Utara ini. Bersentuhan dengan Samudra Hindia
yang bergelombang ekstrem, pulau ini bisa jadi surga bagi peselancar.Cuaca memang sering tak bisa diprediksi, namun toh tak menyurutkan langkah orang untuk datang ke Pulau Asuh, pulau di sebelah barat pantai Sirombu, Nias Barat, Sumatera Utara.
Segelintir orang datang untuk liburan, keluar dari rutinitas kota: surfing, diving, snorkeling, dan mancing. Para penghuni pulau menerima dengan sangat ramah.
Pulau Asuh terletak di Samudra Hindia di sisi barat Pulau Nias. Panjangnya 2 kilometer dengan lebar sekitar 800 meter. Pulau yang sebagian warganya adalah petani kelapa itu adalah satu dari delapan pulau di Kepulauan Hinako, Nias Barat.
Orang lebih mengenalnya sebagai Pulau Asu, tanpa huruf ”H” di belakang. Huruf itu hilang karena bahasa Nias tidak mengenal huruf mati sehingga kata Asuh jika diucapkan orang Nias terdengar seperti Asu. Maka pulau yang sangat dikenal para pencinta selancar (surfing) dunia karena ombaknya yang besar itu pun dikenal dengan Pulau Asu.
Earl Sullivan (35) bersama istrinya, Samantha, misalnya, tiap liburan sejak tahun 2007 selalu singgah ke Pulau Asuh. Pasangan asal California, Amerika Serikat, itu bisa berbulan-bulan menghabiskan waktu di pulau yang dipenuhi pohon kelapa dengan pasir putih di sepanjang pantai itu.
”Di sini tenang, tak banyak orang,” kata Earl. Rasanya memang seperti memiliki pulau sendiri.
Hal serupa dilakukan oleh Andrew Walker, pria asal Australia bersama istrinya, Neli Siti Asiah, yang berasal dari Betawi. ”Kami tiga minggu di sini,” tutur Neli yang lebih dulu singgah di Bali sebelum ke Pulau Asuh.
Andy, panggilan Andrew, sudah 12 tahun mengenal Pulau Asuh. Ia bahkan punya kapal boat di pulau itu untuk berkeliling Pulau Asuh dan pulau-pulau sekitarnya. Karena pahamnya Pulau Asuh, Andy tahu pasti di mana tempat bagus untuk selancar, juga diving, atau sekadar snorkling. Ia membawa seluruh peralatan kegiatan laut itu dari Australia.
Andy, Earl, dan Samantha, adalah para penggila selancar. Sesekali Andy juga snorkeling dan diving di seputar Kepulauan Hinako.
Jika lelah atau cuaca buruk, mereka memilih tinggal di cottage membaca buku, berselancar di internet, atau sekadar tiduran di hammock. Duduk-duduk di pasir putih pantai juga sudah menyegarkan.
Neli bahkan sampai gosong kulitnya karena saban hari menikmati pantai dan berenang di laut. ”Gak apa-apa, yang penting asyik, he-he,” tutur Neli.
Internet tersedia di pulau mungil itu. Asuh Camp, tempat Earl menginap, menyediakan wifi. Namun, Andy memilih membawa modem sendiri karena bungalow Mama Silvi tidak menyediakan internet. Kebanyakan para pengelola bungalow sangat hangat menerima tamu dan memperlakukan tamu sebagai bagian dari keluarga.
Favorit peselancar
Sebelum tsunami, Pulau Asuh adalah pulau favorit para peselancar. Ombaknya tinggi dan panjangnya bisa ratusan meter. Saat gempa dan tsunami menerjang Nias tahun 2004-2005, Pulau Asuh terangkat sekitar tiga meter. Akibatnya, ombak memendek menjadi sekitar 70 persennya saja meskipun tingginya masih 8 hingga 10 meter. Banyak peselancar yang tidak lagi datang ke Pulau Asuh.
Namun bagi Earl, kondisi ini lebih menyenangkan karena lebih aman. Risiko cedera pun lebih sedikit. Selain itu Pulau Asuh menjadi lebih tenang.
”Bagi peselancar AS, mimpi kami adalah berselancar di pantai-pantai Indonesia,” kata Earl. Ia telah keliling di banyak tempat selancar termasuk ke Mentawai, dan pilihannya jatuh ke Pulau Asuh.
Kalau angin di Pulau Asuh sedang tidak bagus, para peselancar akan pindah ke Pulau Bawah, tak jauh dari Pulau Asuh.
Edison Marunduri (48), pemilik penginapan Mama Silvi–satu-satunya penduduk asli yang memiliki penginapan–bercerita, Pulau Asuh mulai jadi kawasan wisata sejak tahun 1980-an saat peselancar asal Belgia bernama Patric dan Nicholas menemukan ombak besar di Pulau Asuh. Dua orang itu kemudian bekerja sama dengan penduduk lokal mendirikan penginapan dan mempromosikan Pulau Asuh.
Setelah itu, muncul orang Australia yang juga bermitradengan penduduk lokal membangun penginapan. ”Saya baru tahun 1997 membangun,” tutur Edison.
Para pengelola mematok harga antara Rp 200.000 hingga Rp 400.000 per hari untuk satu bungalow bagi wisatawan asing. ”Untuk wisatawan lokal ada diskon separuh,” tutur Manati Gulo, pengelola Asu Camp yang memasang tarif Rp 400.000 untuk wisatawan asing termasuk makan tiga kali.
Meskipun wisatawan asing turun 50 persen, namun ada peminat baru yang datang ke Pulau Asuh beberapa tahun terakhir, yakni pencinta kegiatan memancing. Mereka datang dari Medan, Singapura, dan Jakarta.
Berombongan para pencinta kegiatan memancing itu menginap antara lima hari hingga seminggu. Mereka pun membawa peralatan sendiri, bahkan kapal sendiri, meskipun bisa juga menyewa dari nelayan setempat.
Ikan di seputar Pulau Asuh masih sangat banyak dari tongkol, layar, tenggiri, berbagai jenis kakap, hingga ikan yang disebut penduduk ikan nanas merah, ikan jarang gigi. Para pencinta memancing hanya menangkap untuk berfoto kemudian ikan akan dilepaskannya lagi.
Tak heran kalau Edison dan para nelayan di Kepulauan Hinako dan Sirombu geram saat banyak kapal pukat harimau beroperasi di perairan Kepulauan Hinako. Ia khawatir rumput terancam habis, keindahan laut hilang dan ikan pun hilang.
Rasa geram itu kiranya menjadi komitmen semua pihak untuk peduli akan kelestarian ekologi pulau ini....
Sumber :Kompas.com
Subscribe to:
Posts (Atom)



