KRI Dewaruci kini berusia 60 tahun. Banyak jasa dari kapal yang
terbilang tua itu dalam melahirkan ribuan pelaut-pelaut tangguh TNI AL
melalui Akademi Angkatan Laut guna mengawaki beragam kapal perang yang
dimilikinya. Tak heran apabila julukan "Ibu" disematkan pada kapal tiang
tinggi milik TNI AL ini.
KRI Dewaruci memiliki 16 layar beragam
ukuran. Dengan lebar 9,50 meter, kapal tersebut memiliki panjang 58,30
meter dengan bobot 874 ton. Selain itu, kapal dengan tipe Tall Ships
Barquentine itu memiliki kecepatan mesin 10,5 knot dan kecepatan layar 9
knot.
Kehadiran KRI Dewaruci ketika melakukan pelayaran keliling
dunia mendapatkan banyak apresiasi dari pengunjung yang tertarik. Kapal
dengan segudang prestasi itu telah menjadi legenda dan membawa harum
nama Bangsa Indonesia. Tak heran ketika Kompas.com menyambangi kapal, tampak sejumlah piagam dan cinderamata diberikan dari negara-negara yang pernah disinggahinya.
Menengok
bagian dalam kapal, juga banyak cinderamata dan plakat ditempelkan pada
dinding. Sebuah ruangan yang tak begitu besar tempat penerima tamu
tampak menampilkan suasana mewah berkesan klasik, lengkap dengan
pernak-perniknya. Sementara itu, di ruang kemudi kapal, atau yang
disebut ruang nahkoda, terdapat dua kemudi kapal dan sejumlah alat
navigasi, seperti GPS dan radar.
Meski begitu, para kadet Akademi
Angkatan Laut yang belajar di kapal tersebut juga harus bisa melakukan
pelayaran dengan navigasi astronomi selain menggunakan GPS atau radar.
Pasalnya, hal itu merupakan pengetahuan dasar bagi calon pelaut.
Bercerita
soal pengalaman, berbagai tantangan di lautan sudah menjadi hal biasa
yang dilalui kapal latih KRI Dewaruci, mulai dari gelombang ganas,
sampai yang adem ayem pun telah dilalui. "Pengalaman yang paling
menegangkan waktu closing Pasifik, waktu itu kan lautan tidak
pernah teduh, selalu gelombang besar. Waktu itu di Samudra Pasifik,
gelombang paling besar rata-rata 12 meter sampai 14 (meter), baik dari
arah lambung maupun dari halauan," kata Komandan KRI Dewaruci Letkol
Laut (P) Haris Bima Bayuseto kepada wartawan, Kamis (11/10/2012).
Namun,
hal itu, menurut Haris, dapat menjadi pelajaran berharga bagi para
pelaut yang tengah dilatih. Berkat kedisiplinan awak dan kru kapal,
gelombang besar tak membuat mereka surut mengarungi samudra.
"Tantangannya, ya alam itu kan enggak boleh kita tantang, tidak bisa
diprediksi. Kita ikuti saja sambil kita menyesuaikan. Kita belajar
bagaimana cara menghindari badai, cara memanfaatkan ombak, di situ kita
ambil semua," ujar Haris.
Di lautan pun, sambungnya, makanan yang
tersedia sedikit berbeda dengan yang biasa disajikan pada umumnya di
darat. "Kita hanya andalkan makanan kering, buah-buahan, tapi karena
kita tugas kita harus siap," ungkapnya.
KRI Dewaruci senantiasa
disambut meriah acap kali menyambangi setiap kota di mancanegara dalam
perjalanan keliling dunianya. "Kalau di negara penerima, kesan kita,
mereka selalu menerima kita dengan baik. Pemandu (asing) juga sering
berebut mau menjadi pemandu di kapal ini," kata Haris.
Kini di
usianya yang telah tua, meski akan digantikan dengan yang baru, KRI
Dewaruci tetap menjadi simbol dan legenda untuk 'Ibu Pertiwi' atas
prestasi dan jasanya menjalani berbagai misi, termasuk menjadi Duta
Pariwisata Indonesia.
Sumber : Kompas.com

No comments:
Post a Comment